Home ham Menjadi Dosen di Tengah Arus Kapitalisme Akademik

Menjadi Dosen di Tengah Arus Kapitalisme Akademik

138
0
SHARE
Menjadi Dosen di Tengah Arus Kapitalisme Akademik

Suatu sore di kampus, setelah ruang kelas kembali sunyi, seorang dosen masih duduk di depan layar komputernya. Tumpukan buku terbuka di meja, tetapi yang sedang ia kerjakan bukan membaca atau menulis gagasan baru. Ia sedang melengkapi laporan kinerja semester. Pemandangan semacam ini semakin akrab dalam kehidupan perguruan tinggi dewasa ini. Dunia akademik yang dahulu identik dengan ruang refleksi dan pencarian makna perlahan bergerak mengikuti ritme baru: ritme pengukuran, capaian, dan target produktivitas.. Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia hadir bersama tuntutan zaman yang menghendaki akuntabilitas dan kualitas terukur dalam pendidikan tinggi. Universitas dituntut bersaing secara global, meningkatkan reputasi, serta menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat.  Namun di tengah perubahan itu, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: bagaimana nasib panggilan intelektual seorang dosen ketika pekerjaan akademik semakin dipahami melalui angka-angka kinerjaAntara Pengabdian dan Pengukuran

Menjadi dosen pada dasarnya adalah panggilan untuk merawat pengetahuan. Mengajar bukan sekadar mentransfer informasi, melainkan membentuk cara berpikir. Meneliti bukan hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga memahami realitas secara lebih jernih. Akan tetapi, sistem evaluasi modern menuntut agar seluruh aktivitas tersebut dapat diukur secara konkret. Publikasi ilmiah, indeks sitasi, dan berbagai indikator performa menjadi tolok ukur utama keberhasilan akademik. Pengukuran tentu diperlukan untuk menjaga standar mutu. Namun ketika ukuran menjadi orientasi utama, muncul risiko bahwa proses intelektual yang sejatinya lambat dan reflektif dipaksa mengikuti logika kecepatan.
Gagasan besar sering membutuhkan waktu panjang untuk matang sesuatu yang tidak selalu sejalan dengan siklus pelaporan tahunan.


Publikasi dan Dilema Akademik

Fenomena dorongan publikasi yang kuat membawa konsekuensi tersendiri. Banyak dosen merasakan tekanan untuk terus menulis agar tetap relevan dalam sistem penilaian akademik.Di satu sisi, hal ini mendorong produktivitas ilmiah. Di sisi lain, ia juga menimbulkan dilema: apakah penelitian dilakukan karena kebutuhan intelektual atau karena tuntutan administratif? Tidak sedikit akademisi yang diam-diam merindukan waktu membaca tanpa tergesa, berdiskusi tanpa target, atau meneliti persoalan mendasar yang mungkin tidak segera menghasilkan publikasi. Kerinduan ini menunjukkan bahwa dunia akademik bukan sekadar ruang kerja, tetapi juga ruang kontemplasi.. Tantangan pendidikan tinggi hari ini mungkin bukan memilih antara tradisi akademik dan tuntutan modernitas, melainkan menemukan keseimbangan di antara keduanya. Akuntabilitas tetap penting, tetapi demikian pula ruang refleksi. Produktivitas diperlukan, tetapi kedalaman pemikiran tidak boleh dikorbankan. Universitas perlu tetap menjadi tempat di mana pertanyaan boleh tumbuh tanpa tergesa-gesa, dan dosen tetap memiliki ruang untuk berpikir sebagai manusia, bukan semata sebagai penghasil capaian.Di tengah berbagai perubahan sistem pendidikan tinggi, peran dosen sesungguhnya tetap sama: menjaga nyala pengetahuan agar tidak padam oleh rutinitas. Barangkali tantangan terbesar bukanlah tekanan indikator kinerja itu sendiri, melainkan bagaimana memastikan bahwa di balik angka-angka tersebut, ruh pendidikan tetap hidup. Sebab pada akhirnya, universitas bukan hanya tentang apa yang dapat dihitung, melainkan tentang apa yang membentuk kemanusiaan. Dan tugas itu selalu dimulai dari satu hal sederhana: seorang dosen yang tetap setia berpikir

( Dr Sapta Baralaska Utama Siagian Dosen Perguruan Tinggi ).