Home rohani Teologi Kebangsaan : Menjadi Garam dan Terang Dunia

Teologi Kebangsaan : Menjadi Garam dan Terang Dunia

Iman yang mewrnai Bangsa, Bangsa yang memuliakan Tuhan

304
0
SHARE
Teologi Kebangsaan : Menjadi Garam dan Terang Dunia

Harmoni Indonesia  Gereja tidak hanya hidup di antara dinding tempat ibadah. Ia berada di tengah bangsa yang sedang bergulat dengan kemiskinan, ketidakadilan, intoleransi, polarisasi politik, krisis lingkungan, dan perubahan sosial yang cepat. Karena itu, iman Kristen ditantang untuk tidak berhenti sebagai urusan pribadi.

Gagasan itulah yang mengemuka dalam ibadah rutin Komisi Pria GKPO Halim Perdanakusuma, Sabtu, 22 Agustus 2026, di Gereja Dirgantara. Mengangkat tema “Teologi Kebangsaan”, kegiatan tersebut menghadirkan Pdt. Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian, M.Th., sebagai Nara sumber . Matius 5:16 menjadi dasar pembahasan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang...” Pesannya sederhana, tetapi konsekuensinya tidak kecil: orang Kristen dipanggil menjadi terang bukan hanya di gereja, tetapi juga di tengah kehidupan bangsa. Dalam ibadah tersebut diadakan tanya jawab Dimana pertanyaan-pertanyaan Kritis dan Cerdas disampaikan oleh peserta membuat suasana semakin dinamis.

 Dalam gagasan Teologi Kebangsaan, iman Kristen tidak ditempatkan berhadapan dengan kehidupan bernegara. Sebaliknya, iman dipandang memiliki tanggung jawab terhadap bonum commune, atau kebaikan bersama.

Gereja tidak harus menjadi partai politik. Gereja juga tidak perlu menjadi perpanjangan tangan kekuasaan. Namun gereja tidak seharusnya diam ketika ketidakadilan terjadi. Di sinilah gereja dituntut memiliki dua keberanian sekaligus: bekerja sama ketika kepentingan masyarakat membutuhkan kolaborasi, dan mengkritisi ketika kekuasaan menyimpang. Teologi Kebangsaan juga menolak anggapan bahwa mencintai Indonesia berarti harus menganggap negara selalu benar. Nasionalisme yang sehat justru memungkinkan kritik. Mencintai Indonesia berarti bersedia merawat dan memperbaikinya. Dalam konteks masyarakat majemuk, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dipandang sebagai ruang bersama. Gereja dapat menyumbangkan nilai iman melalui tindakan nyata: memperjuangkan keadilan, menghormati martabat manusia, membangun perdamaian, merawat lingkungan, dan menolong kelompok yang rentan. Dalam Teologi Kebangsaan  menawarkan tiga karakter : dialogis, profetis, dan transformatif. Dialogis berarti gereja terbuka bekerja sama dengan berbagai kelompok. Profetis berarti gereja tetap berani menyuarakan kebenaran dan keadilan. Transformatif berarti iman harus menghasilkan perubahan nyata. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Teologi Kebangsaan bukan seberapa sering gereja berbicara tentang Indonesia. Ukurannya adalah seberapa jauh kehadiran orang Kristen memberi manfaat bagi Indonesia. ( Siagian )

 

 

.